Praktisi Pemasaran Ahmad Madani Kupas Tantangan Era AI di UNIDA Gontor

By Admin


Ahmad Madani Bersama Mahasiswa UNIDA Gontor

nusakini.com, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) menyelenggarakan kuliah tamu untuk membedah tantangan baru dunia komunikasi pemasaran pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Acara edukatif yang berlangsung di Kampus Siman, Ponorogo ini secara khusus menyoroti pergeseran perilaku masyarakat yang mulai mengandalkan sistem kecerdasan buatan untuk mencari rekomendasi.

Pihak kampus menghadirkan praktisi pemasaran sekaligus pegiat vokasi, Ahmad Madani, sebagai narasumber utama bagi para mahasiswa semester empat. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi komprehensif bertajuk “Dari Attention ke Recommendation: Komunikasi Pemasaran di Era Social Media dan Artificial Intelligence.”

Menurut pemaparan Madani, transformasi platform media memaksa para komunikator modern untuk menyusun strategi yang lebih kompleks dari sekadar pembuatan konten promosi. Ia menyebutkan bahwa para praktisi saat ini diwajibkan mampu berhadapan dengan tiga lapisan entitas sekaligus, yakni manusia, algoritma, dan mesin kecerdasan buatan.



Fokus utama pemasaran saat ini dinilai telah bergeser jauh dari sekadar upaya mencari perhatian publik menuju kelayakan sebuah merek untuk direkomendasikan. “Dulu pertanyaannya adalah bagaimana sebuah brand mendapatkan perhatian, tetapi sekarang muncul pertanyaan baru tentang apakah sebuah brand cukup jelas dipahami sehingga layak direkomendasikan, termasuk oleh sistem AI,” ujar Madani di hadapan peserta.

Lebih lanjut, materi diskusi juga mengupas keterkaitan antara strategi penjualan personal, kampanye media sosial, dan optimalisasi mesin pencari generatif. Madani menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi baru yang muncul, keberhasilannya tetap bertumpu pada kemampuan dasar komunikasi seperti mendengarkan audiens dan membangun kepercayaan.

Sebagai contoh konkret implementasi, ia membandingkan fenomena interaksi siaran langsung di aplikasi TikTok dengan bentuk baru dari teknik penjualan personal konvensional. Proses penawaran produk yang terjadi di ruang siaran virtual tersebut dinilai memiliki pola pendekatan yang identik dengan gaya tradisional, hanya saja skala dan medianya yang telah beradaptasi.

Pembahasan kemudian diarahkan pada urgensi visibilitas kecerdasan buatan dalam merespons pola pengguna internet yang beralih dari sekadar mencari wacana menjadi meminta rekomendasi. Membangun jejak digital yang konsisten, kredibel, dan mudah dibaca oleh sistem kecerdasan buatan kini menjadi tantangan utama bagi setiap individu maupun organisasi.



Untuk mencapai tingkat rekomendasi yang ideal, narasumber juga memperkenalkan empat tahapan sederhana yang terdiri dari proses dikenal, dipahami, dipercaya, lalu direkomendasikan. Praktisi komunikasi diwajibkan memiliki kompetensi nyata yang didukung oleh dokumentasi karya valid serta pemosisian reputasi yang jelas di ruang digital.

Dekan Fakultas Humaniora UNIDA Gontor, Sofi Mubarok, menyambut baik paparan materi ini sebagai langkah penting untuk memahami dampak esensial teknologi terhadap perilaku manusia. “Mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu memahami perkembangan teknologi secara kritis karena unsur manusia, etika, kredibilitas, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi yang tidak boleh hilang,” jelasnya menanggapi isu tersebut.

Senada dengan pandangan pimpinan fakultas, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UNIDA Gontor, Bambang Setyo Utomo, memandang topik perkuliahan ini sangat relevan dengan dinamika industri terkini. “Mereka juga perlu mengetahui bagaimana komunikasi berkembang di media sosial, dunia pemasaran digital, sampai perubahan perilaku pencarian informasi akibat artificial intelligence,” terangnya merangkum esensi kegiatan.

Bagi Madani yang juga merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor angkatan 2001, forum akademis ini menjadi wadah strategis untuk membagikan wawasan industri kepada generasi penerus almamaternya. Ia menutup sesi pemaparannya dengan berpesan agar para mahasiswa tidak sekadar mengejar popularitas digital, melainkan harus fokus membangun kompetensi teruji yang memang layak untuk direkomendasikan.

“Be visible. Be understood. Be trusted. Be worth recommending.”